Posts

Image
SAKSI BISU ISLAM DI GRANADA Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ^_^ Hai teman-teman para pengunjung blog Icha. Sebelumnya aku mau tanya ke kalian semua. Apakah kalian tahu bahwa islam pernah berkembang di tanah eropa? Lalu seperti apakah kemajuan dan perkembangan di saat itu. Nah, dikesempatan ini Icha ingin memberitahu sekilas dari salah satu saksi bisu keberadaan islam di benua hijau tersebut tepatnya di Spanyol. Islam mulai berkembang di Andalusia ( sekarang Spanyol ) saat kedatangan Dinasti Umayyah II yang sebelumnya telah berkembang di daerah Damaskus ( disebut Dinasti Umayyah I). Lalu pada tahun 755 M, Abdurrahman  I yang memasuki Spanyol dan diberi gelar al-Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kerajaan Bani Abbas, ketika Dinasti Abbasiyah berhasil menaklukkan Dinasti Umayyah di Damaskus. Istana Alhambra Sumber gambar :Conde` Nast Traveler Selanjutnya, ia berhasil mendirikan Dinasti Bani Uma...

Kakek Leluhurku Bukan Seorang Pelaut

Kakek Leluhurku Bukan Seorang Pelaut H ei, kawan-kawan. Selamat datang di dinding catatanku. Kali ini aku akan menuliskan tentang Kakek dari kakek aku, ehm atau kalian bisa menyebutnya Wareng aku dari keluarga Ibuku. Aku memanggilnya mbah Mail.             Beliau adalah Mochammad Ismail yang lahir disekitar tahun 1898-an. Beliau lahir dan besar di desa lawatan ( dulu lawangrejo ), sebuah desa kecil bagian dari Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur. Masa kecilnya diisi dengan menimba ilmu di Madrasah Ibtida’ Lawatan. Menurut cerita Ibuk (nenek), Ismail sejak dini diajarkan ilmu keagamaan yang kuat. Sehingga saat umurnya mencapai 13 tahun beliau ‘dikirim’ untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang.             Setelah beberapa tahun menimba ilmu di Pesantren, beliau kembali ke desa asalnya, Lawatan. Dari hasil peninggalan kakek-nenek sebelumnya...

Malam

Malam? oleh : itcha Bukan saat malam itu . Saat kau menampakkan dengan jelas siluetmu Dalam remang yang membawa segenggam jerit rindu lilin yang menemani tiap detik itu termakan habis oleh rembulan Bukan lagi malam itu . Aku yang tengah bejalan dalam heningnya kebisingan Berbicara pada awam seakan baik-baik saja Jangankan seorang penjaga toko, Lampu kota pun mengerti Arti dari jeritan kecil itu, jeritan pada kenangan yang terpatri tepan dihati Bukankah malam itu? Saat aku tak lagi mendetakkan jantungku begitu saja Berhenti, kembali merasakan rinti kehampaan Hingga tiap detik amarah membabi buta. Tak karuan Seuntai cahaya yang menerangikupun meredup Dan aku... Berdiri sendirian diantara ilalang itu, sembari.. dipeluk balai angin malam