Kakek Leluhurku Bukan Seorang Pelaut


Kakek Leluhurku Bukan Seorang Pelaut

H
ei, kawan-kawan. Selamat datang di dinding catatanku. Kali ini aku akan menuliskan tentang Kakek dari kakek aku, ehm atau kalian bisa menyebutnya Wareng aku dari keluarga Ibuku. Aku memanggilnya mbah Mail.

            Beliau adalah Mochammad Ismail yang lahir disekitar tahun 1898-an. Beliau lahir dan besar di desa lawatan ( dulu lawangrejo ), sebuah desa kecil bagian dari Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur. Masa kecilnya diisi dengan menimba ilmu di Madrasah Ibtida’ Lawatan. Menurut cerita Ibuk (nenek), Ismail sejak dini diajarkan ilmu keagamaan yang kuat. Sehingga saat umurnya mencapai 13 tahun beliau ‘dikirim’ untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang.

            Setelah beberapa tahun menimba ilmu di Pesantren, beliau kembali ke desa asalnya, Lawatan. Dari hasil peninggalan kakek-nenek sebelumnya , beliau mulai mendirikan bisnis dengan berdagang gabah dan palawija. Seringkali saat masa penjajahan Belanda tahun 1923-an, Belanda memonopoli pasar dagang ataupun merebut hasil panen orang Indonesia. Jadi tak jarang bila Mbah Mail seringkali mengubur kembali Palawija di dalam rumahnya. Tak jarang pula beliau merasa iba saat melihat hasil panen tetangga yang biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari harus diserahkan pada Belanda. Sehingga, beliau sering membagikan sebagian kecil hasil panen palawija yang sempat disembunyikannya untuk tetangga-tetangganya.

            Hidup dan mengelola bisnis sendiri sebagai seorang Bujang tidaklah mudah. Akhirnya di awal tahun 1930 beliau memutuskan melamar anak perempuan dari kawan sesekolahnya saat masih sekolah di Madrasah Ibtida’. Dia Aminah, meskipun umurnya yang berpaut 18 tahun, namun sikap kedewasaan Emak ( istri mbah Mail ) tidaklah kekanak-kanakan. Emak mampu mengurusi pekerjaan rumah tangga dan membantu bisnis Mbah. Sebenarnya aku bertanya-tanya, kenapa Emak menikah di usia yang sangat muda menurutku, namun Emak membalas bahwa diusia ke-14 tahun bukanlah usia yang muda. Bahkan apabila gadis diusia tersebut dulu merupakan usia yang wajib untuk berumah tangga.
Setelah beberapa tahun pernikahan, Mbah dan Emak tidak dikarunia anak, sehingga mereka memutuskan untuk mengadopsi cucu sepupu beliau, yakni Nenek ku

Semakin lama bisnisnya semakin besar karena beberapa penduduk Belanda berminat menjadi mitra bisnisnya. Setelah itu, diawal-awal kemerdekaan sekitar tahun 1945-an beliau sempat dipercaya mengemban amanat menjadi Kepala Desa di Lawatan. Sekitar 3-4 tahun setelah itu beliau turun dari jabatan tersebut dan kembali fokus untuk mengembangkan bisnisnya. Beliau mengembangkan unit usahanya dagang sembako, pecah belah, dan material bangunan.

            Dan tidak lama setelah itu, beberapa bulan kemudian beliau memutuskan untuk melaksanakan rukun islam kelima, yakni Haji. Dengan tabungannya selama ini, Mbah dan Emak menunaikan haji pada tahun 1950. Sedangkan di tanah air sendiri tengah bergejolak mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang menyebabkan banyak gosip beredar tentang mata-mata Belanda. Sehingga, pergi haji merupakan salah satu upaya untuk menghindari fitnah tersebut yang tidak benar adanya.

      Sepulang dari haji, Mbah kembali melanjutkan usahanya yang sempat terbengkalai karena ditinggal haji beberapa tahun. Selain itu kegiatan lain beliau  mendirikan lembaga pendidikan informal / mandiri semacam tarikat dan kajian Islam lumayan banyak peserta pengajian yang digelar rutin setiap sore hari di rumahnya. Semua beliau lakukaan hingga di usianya ke 76 tahun. beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1974 karena penyakit arthritis kronis yang beliau derita selama beberapa tahun terakhir.




Comments

Popular posts from this blog

Malam